Senin, 20 Mei 2013

KESENIAN KALIGRAFI



MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Ijtima’iy
Dosen Pengampu : Mas’udi, S.Fil.I., M.A.


Disusun Oleh :
Akhmad Syaifuddin
311020

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
PROGRAM STUDI TAFSIR HADITS
JURUSAN USHULUDDIN


KESENIAN KALIGRAFI
A.     PENDAHULUAN
Al-Quran adalah kitab pegangan utama umat islam, oleh karena itu al-Quran adalah kitab suci yang paling banyak di ucapkan dan diperdengarkan dari waktu ke waktu. Menarik perhatian dalam hal ini bahwa umat islam ketika berinteraksi beranekaragam dalam mengaplikasikan dan mengamalkannya. Salah satu variasi tersebut adalah sebagian mereka melihat al-Quran sebagai bentuk estetik ilahi yang harus di apresiasi dengan estetik pula, seperti melagukan dalam pembacaan, menulis dengan berbagai bentuk tulisan yang indah serta lain sebagainya.
Al quran juga mengatur manusia bagaimana menikmati keindahan atau perhiasan dan memanfaatkannya.
öNä3s9ur $ygŠÏù îA$uHsd šúüÏm tbqçt̍è? tûüÏnur tbqãmuŽô£n@ ÇÏÈ  
Artinya; “Dan kamu menikmati pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS.An Nahl [16]: 6).
      Ayat ini memperingatkan sisi keindahan, yaitu mengarahkan pandangan kita kepada oknum Allah yang sangat indah yang tidak pernah ada tangan seorang makhluk senimanpun mampu melukisnya, melainkan dilukis oleh tangan Sang Pencipta Yang Maha Suci.
Kaligrafi sebagai salah bentuk kesenian menulis telah menunjukkan bahwa al-Quran di terima oleh umatnya tidak hanya dalam tataran etika maupun norma kehidupan, melainkan sebagai ekspresi estetika. Namun yang menjadi sebuah pertanyaan mendasar, apa tujuan mereka mengapresiasi al-Quran dari sisi estetik dan apa yang terejawantahkan dalam kesenian kaligrafi adalah benar-benar ejawantah dari spirit islam.




B.     RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini, Saya ingin memaparkan tentang pengertian Kesenian dalam Kaligrafi, sejarah penafsiran Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 31 serta fungsi kaligrafi dalam tradisi seni keislaman.
1.      Apa definisi kesenian dalam kaligrafi?
2.      Bagaimana sejarah serta penafsiran surat Al Baqarah ayat 31?
3.      Bagaimana fungsi kaligrafi dalam tradisi seni Islam?

C.     PEMBAHASAN
1.      Definisi
Kaligrafi dalam Ensikolpedia bebas Wikipedia maupun Kamus Besar Indonesia  diartikan sebagai seni menulis indah dengan pena sebagai hiasan. Ungkapan kaligrafi sendiri berasal dari bahasa Latin “kalios” yang berarti indah dan “graph” yang berarti tulisan. Dalam bahasa Inggris, kaligrafi adalah bentuk sederhana dari calligraphy, dalam bahasa Arab biasa disebut dengan khat.
 “Kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan cara merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis; menggubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan cara bagaimana untuk menggubahnya”[1].
 Pemaparan definisi di atas menunjukkan bahwasannya kaligrafi adalah sebuah “aturan maen” perihal tulis menulis. Adapun kaligrafi menurut Situmorang adalah suatu corak atau bentuk seni menulis indah dan merupakan suatu bentuk keterampilan tangan serta dipadukan dengan rasa seni yang terkandung dalam hati setiap penciptanya[2]. Sedangkan Yaqut Musta’shim memahami kaligrafi sebagai sebuah pengalaman rohani kaligrafer yang terwujudkan dalam keindahan tulisan[3].
Al quran juga mengatur manusia bagaimana menikmati keindahan atau perhiasan dalam tulisan seni dan memanfaatkannya.
öNä3s9ur $ygŠÏù îA$uHsd šúüÏm tbqçt̍è? tûüÏnur tbqãmuŽô£n@ ÇÏÈ  
Artinya; “Dan kamu menikmati pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS.An Nahl [16]: 6).
            Ayat ini memperingatkan sisi keindahan, yaitu mengarahkan pandangan kita kepada oknum Allah yang sangat indah yang tidak pernah ada tangan seorang makhluk senimanpun mampu melukisnya, melainkan dilukis oleh tangan Sang Pencipta Yang Maha Suci.
2.      Sejarah
Al-Quran adalah kitab suci orang Islam yang menjadikan setiap lini kehidupan kaum muslimin menjadi indah, tidak terkecuali gaya budaya dan seni juga terpengaruhi bahkan terlahir dari al-Quran itu sendiri seperti pengaruhnya terhadap seni kaligrafi, al-Quran menduduki posisi penting[4].
Merujuk kepada Q.S al-Baqarah: 31.
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ  
Artinya: dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Banyak kalangan Arab meyakini bahwasannya kaligrafi pertama kali di cetuskan oleh Adam, makhluk pertama yang diajari Allah nama-nama seluruh benda yang ada.  Meskipun kaligrafi telah ada sejak manusia pertama, namun dikalangan umat Islam sendiri memulai memikirkan kaligrafi (tulis-menulis) pada era kodifikasi al-Quran. Seperti disiplin ilmu lainnya, kaligrafi menemukan keanekaragaman ketika Islam melakukan invasi ke beberapa negara untuk menyebarluaskan ajarannya, misalnya salah satu tulisan awal yang dianggap dikembangkan di Irak pada paruh kedua abad kedelapan Masehi, menjadikan al-Quran dalam penyalinannya menggunakan tulisan tersebut[5].
Selanjutnya, perkembangan tulisan pun tidak dapat di hindari, hal tersebut di tandai dengan beranekaragamnya tulisan, seperti Naskhi, Tsuluts, Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, Farisi dan Kufi. Seni kaligrafi yang merupakan kebesaran seni Islam, lahir di tengah-tengah dunia arsitektur dengan segar bugar. Ini dapat dibuktikan pada aneka ragam hiasan kaligrafi yang memenuhi masjid-masjid dan bangunan lainnya, yang dituangkan dalam paduan ayat-ayat suci Al Qur'an, Hadits Nabi dan kata Hikmah Ulama arif bijaksana. Demikian pula mushaf-mushaf Al Qur'an banyak ditulis dengan pelbagai model kaligrafi yang digores corak-corak hias puspa ragam mempesona. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa penerimaan seni kaligrafi sebagai kesukaan merata di kalangan umat Islam adalah pengaruh motivasi Al Qur'an untuk mempelajarinya.
Menurut Habibullah Fadzoili, sebagaiamana dikutip oleh Nurul Huda, menjelaskan bahwasannya periodesasi kaligrafi islam terbagi menjadi enam periode sebagai berikut;
Pertama, kemunculan gaya kufi. Dalam hal ini, baik kemunculan dalam bentuk tanpa tanda baca kemudian berlanjut sedemikian rupa indahnya.
Kedua, munculnya beberapa gaya penulisan selaian gaya kufi yang sudah ada, seperti tsulust, riq’i, naskhi, muhaqqaq, raihan, dan tauqi’.
Ketiga, periode penyempurnaan dan perumusan kaidah penulisan oleh Abu Ali Muhammad bin Muqlah (940 M) dan Abu Abdullah Hasan bin Muqlah dengan metode al-khat al-mansub(ukuran standar bentuk kaligrafi).
Keempat, periode Abu Hasan Ali bin Hilal (1022 M). Pada periode ini, kaidah sebelumnya dikembangkan melalui kaidah yang di istilahkan dengan al-khat al-faiq.
Kelima, periode Jamaluddin Yaqut al-Musta’shim (1298 M). Jamaluddin mencoba mengembangkan hiasan kaligrafi dengan penyesuaian pena, yaitu potongan miring.
Keenam¸munculnya tiga gaya baru penulisan, yaitu gaya ta’liq dikembangkan oleh Abdul Hayy, gaya nasta’liq oleh Mir Ali dan gaya Shikatseh oleh Darwisi Abdul Majid[6].
Kemudian Sirajuddin mencatat bahwa pelopor kaligrafi kontemporer di Indonesia adalah Ahmad Sadali dan A.D Pirous (Bandung), Amri Yahya (Yogyakarta) dan Amang Rahman (Surabaya). Di Yogyakarta sendiri, setelah generasi mereka lahir kaligrafer kontemporer seperti Syaiful Adnan, Hatta Hambali, Hendra Buana, Yetmon Amier dan lain sebagainya[7].
3.      Kaligrafi Dalam Tradisi Seni Islam
Kesenian tulis indah atau lebih dikenal dengan kaligrafi untuk masa sekarang ini, sudah begitu akrab di kehidupan orang Islam di manapun berada. Bagi mereka, kaligrafi memiliki berbagai fungsi serta nilai yang terkandung di dalamnya. Diantara fungsi dan nilai tersebut adalah sebagai berikut.
a)      Nilai Agama
Kaligrafi adalah sebuah karya manusia yang mencoba menuangkan ide-ide Ilahi melalui tulisan-tulisan indah, sehingga kaligrafi bertautan dengan nilai-nilai Ilahi dalam ruang lingkup spiritual, karena bagaimanapun kaligrafi adalah karya nyata yang bernilai seni dan pengalaman spirit dari kaligrafer.
Kaligrafi Islam adalah pengejawentahan visual dari kristalisasi realitas-realitas spiritual yang terkandung dalam wahyu Islam, kaligrafi tersebut merupakan sebuah pakaian luar untuk Firman Allah di alam nyata meskipun  seni ini tetap berhubungan dengan alam spirit[8].
Menurut Purwanto, seorang perajin perak di Kotagede, kaligrafi adalah kesenian yang bercirikan islami dan bernafaskan Islam[9]. Secara umum, kaligrafi berbicara mengenai tulisan indah, namun realiatas tersebut yang berkembang sampai sekarang adalah kaligrafi islam, yaitu gaya menulis indah Firman Ilahi, sehingga wajar jika dalam masyarakat menganggap bahwasannya kaligrafi bercirikan Islam dan bernafaskan Islam.
b)      Budaya dan Seni
Kaligrafi merupakan produk budaya. Ia lahir dari rahim budaya karena sesungguhnya ia merupakan kebudayaan. Kesenian Islam yang berada di Indonesia pertama kali muncul dalam bentuk batu nisan yang dinamakan dengan tombe. Nisan, sebagai pelambang nama seseorang yang termakamkan dalam periode awal di datangkan langsung dari Gujarat.
Seni kaligrafi adalah: seni tulis yang indah, model tulisan Arab, Latin, India, Cina, Jawa dan model tulisan lainnya. Seni kaligrafi ini dapat dipelajari oleh siapa saja yang berminat, baik bagi yang berbakat dalam bidang seni, seniman bukan-bukan seniman, karena keseharian selalu melakukan kegiatan menulis.
Sebenarnya, bagaimana pandangan Islam tentang seni? Seni merupakan ekspresi keindahan. Dan keindahan menjadi salah satu sifat yang dilekatkan Allah pada penciptaan jagat raya ini. Allah melalui kalamnya di Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh jagat raya dengan segala keserasian dan keindahannya. Allah berfirman:
óOn=sùr& (#ÿrãÝàZtƒ n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# ôMßgs%öqsù y#øx. $yg»oYøt^t/ $yg»¨Y­ƒyur $tBur $olm; `ÏB 8lrãèù ÇÏÈ  
Artinya: “Maka apakah mereka tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan tiada baginya sedikit pun retak-retak?” (QS.Qaaf [50]: 6).
Nilai budaya menunjukkan bahwa kaligrafi turut andil dalam membangun sebuah kebudayaan. Secara historis, kodifikasi al-Quran adalah salah satu tonggak awal peradaban Islam. Bagaimana al-Quran pertama di tulis, bagaimana perkembangannya dan kontroversi yang ada, bahkan salah satu syarat diterimanya sebuah qiraah adalah adanya kesesuaiannya dengan tulisan, yaitu rasm ustmani.

D.     PENUTUP
Dalam penulisan makalah ini bahwasanya masih banyak kekurangan dan kesalahan keterbatasan wawasan dan buku refensi yang saya pelajari, maka saya dapat menyimpulkan sebagai berikut:
Kesenian Kaligrafi adalah sebuah karya seni manusia yang mencoba menuangkan ide-ide Ilahi melalui tulisan-tulisan indah, sehingga kaligrafi bertautan dengan nilai-nilai Ilahi dalam ruang lingkup spiritual.
Kesenian kaligrafi adalah Seni tulis yang indah, model tulisan Arab, Latin, India, Cina, Jawa dan model tulisan lainnya. Seni kaligrafi ini dapat dipelajari oleh siapa saja yang berminat, baik bagi yang berbakat dalam bidang seni, seniman bukan-bukan seniman, karena keseharian selalu melakukan kegiatan menulis. Demikianlah makalah yang saya tulis, dengan itu saya mohon ma’af dan semoga makalah ini bermanfa’at,  Amien.






DAFTAR PUSTAKA

Akhmadi. Apri, Kerajinan Kaligrafi di Kotagede. Yogyakarta: Fak. Adab UIN Sunan Kalijaga. 2010.
al-Faruqi. Isma’il R, dan al-Faruqi. Lois Lamya, Atlas Budaya Islam;Menjelaskan Khazanah Peradaban Gemilang. Bandung: Mizan. 2003.
Huda. Nurul, Melukis Ayat Tuhan:Pengantar Praktis Berkaligrafi Arab. Yogyakarta: Gama Media. 2003.
Nasr. Sayyed Hossen,  Spiritualitas dan Seni Islam, terj. Sutejo. Bandung: Mizan. 1993.
Sirajuddin, Seni Kaligrafi Islam. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1985
Situmorang, Oloan, Seni Rupa Islam;Pertumbuhan dan Perkembangannya. Bandung: Angkasa. 1993.


















[1] Sirajuddin, Seni Kaligrafi Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas. 1985), hlm. 2
[2] Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam;Pertumbuhan dan Perkembangannya (Bandung: Angkasa. 1993), hlm. 67
[3] Nurul Huda, Melukis Ayat Tuhan:Pengantar Praktis Berkaligrafi Arab (Yogyakarta:Gama Media. 2003), hlm 3
[4] Isma’il R. al-Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi. Atlas Budaya Islam;Menjelaskan Khazanah Peradaban Gemilang (Bandung: Mizan. 2003), hlm 390
[5] Isma’il R. al-Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam;Menjelaskan Khazanah Peradaban Gemilang. Bandung: Mizan. 2003, hlm 390
[6] Nurul Huda, Melukis Ayat Tuhan:Pengantar Praktis Berkaligrafi Arab. Yogyakarta:Gama Media. 2003 hlm. 4-6
[7] Sirajuddin, Seni Kaligrafi Islam. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1985. Hlm 177-178.
[8] Sayyed Hossen Nasr, Spiritualitas dan Seni Islam, terj. Sutejo (Bandung: Mizan. 1993), hlm. 28.
[9] Apri Akhmadi, Kerajinan Kaligrafi di Kotagede (Yogyakarta: Fak. Adab UIN Sunan Kalijaga. 2010) hlm. 80

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar