Selasa, 20 November 2012

NIKAH



Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Hadits Ahkam
Dosen Pengampu : Hj. Isti’anah, MA

Disusun oleh :
Akhmad Syaifuddin

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
PROGRAM STUDI TAFSIR HADITS
JURUSAN USHULUDDIN


NIKAH

       I.            PENDAHULUAN
Nikah merupakan syariat yang tidak boleh diabaikan oleh setiap muslim yang beriman yang telah mampu baik secara lahiriah maupun batiniah. Nikah adalah sunah nabi Muhammad SAW yang harus dikerjakan dan kita ikuti. Namun tidak sedikit umat muslim yang secara materi atau pun jiwa tidak mau segera menikah dan memilih berlama-lama hidup membujang, dengan berbagai resiko terjerumus kepada kemaksiatan.
Nikah itu adalah ibadah, demikian hadis nabi SAW, banyak pemuda tak mau menikah dengan alasan belum siap bertanggung jawab padahal ia telah mampu dari berbagai segi. Allah telah memuliakan bani Adam dan menjadikan nikah itu sebagai cara memiliiki keturunan diantara mereka. Nabi SAW bersabda :.
“nikah itu adalah sunahku, barang siapa tidak menyukai sunahku maka dia bukan termasuk umatku”[1].
Pada kesempatan kali ini kita akan kupas tentang kajian hadis yang berhubungan tentang nikah, anjuran serta hikmah-hikmahnya.
    II.            RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana pengertian nikah?
2.      Apa hikmah dan bagaimana tata caranya?
3.      Siapa saja orang-orang yang haram dinikahi?
4.      Bagaimana  hukum-hukum nikah dalam pandangan feqh?
 III.            PEMBAHASAN
A.       Tampilan Hadis dan terjemahnya;
حديث أنس بن مالك رضي الله عنه, قال: جاء ثلا ثة دهط إلى بيوت أزواج النبي ص.م  يسأ لون عن عبادة النبي ص.م فلما أخبروا كأنهم تعالوها, فقالوا: وأين نحن من النبي ص.م, قد غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر, قال أحدهم: أما أنا فإنى أصلى الليل أبد, وقال اخر: أنا أصوم الدهر ولا أفطرا. وقال اخر: أنا اعتزل النساء قلا أتروج أبدا. فجاء رسو ل الله ص.م, فقال: أنتم الذين قلتم كذا وكذ, أما والله إنى لأخشاكم الله وأتقاكم له, لكنى أصوم وأفطرا وأصلى وأرقد, وأتروج النساء عمن رغب عن سنى فليسى سنى.
اخرجه البخاري في :67 - كتاب النكاح : 1- باب الترغيب في النكاح.
Artinya : “ Hadits Anas bin Malik ra, dimana ia berkata : Ada tiga orang datang ke rumah-rumah istri Nabi Saw menanyakan tentang ibadah Nabi Saw. Setelah diberitahu, seolah-olah mereka menganggap ringan ibadah beliau itu, lalu mereka berkata : Dimanakah kami (bila disbanding) dari (ibadah) Nabi Saw yang telah diampuni dosanya yang telah lewat dan yang akan datang”. Salah seorang di antara mereka berkata: “Saya selalu shalat malam selama-lamanya, saya puasa sepanjang masa dan tidak pernah berbuka. Dan yang lain berkata: Saya menjauhi wanita dan tidak akan kawin selama-lamanya. Kemudian Rasulullah Saw datang, lalu bersabda: Kamu yang berkata begini begini? Ingatlah, demi Allah aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kamu sekalian, namun aku berpuasa dan tidak berpuasa,shalat malam dan tidur, serta aku kawin dengan wanita, siapa yang tidak senang pada sunnahku, maka ia tidak termasuk ummatku”.
(H. Shahih Al Bukhari)[2].
B.       Pengertian Nikah
Nikah secara etimologis berarti mengadakan ikatan suami istri (‘aqdu at-tazwij) atau berarti juga menggauli istri (wat’u al-zaujah). Apabila dikatakan atau, ungkapan tersebut berarti seseorang telah menggauli istrinya. Nikah menurut bahasa ialah berkumpul dan bercampur. Menurut istilah syarak pula ialah ijab dan qabul (‘aqad) yang menghalalkan persetubuhan antara lelaki dan perempuan yang diucapkan oleh kata-kata yang menunjukkan nikah, menurut peraturan yang ditentukan oleh Islam[3].
Para ulama bersepakat bahwa nikah merupakan syariat islam yang tidak boleh diabaikan. Allah telah memuliakan bani Adam dan menjadikan nikah sebagai cara untuk memiliki keturunan diantara mereka. Untuk memelihara keturunan ini, Allah telah menetapkan sanksi zina dan menjadikannya seberat-beratnya sanksi sebab zina bukanlah cara yang tepat untuk membina dan menjaga keharmonisan bani Adam.
Menurut pengertian sebagian fukaha perkawinan ialah:
عقد يتضمن إباحة وطئ بلفظ النكاح أوالتزويح أومعنا هما
Aqad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan, kelamin dengan lafadz nikah atau Ziwaj atau yang semakna keduanya”.
Pengertian ini dibuat hanya melihat dan satu segi saja ialah kebolehan hokum dalam hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita yang semula dilarang menjadi dibolehkan. Padahal setiap perbuatan hukum itu mempunyai tujuan akibat ataupun pengaruhnya. Hal-hal inilah yang menjadikan perhatian manusia pada umumnya dalam kehidupannya sehari-hari. Dapat terjadinya perceraian, kurang adanya keseimbangan antara suami istri, sehingga memerlukan penegasan arti pernikahan bukan saja dan segi kebolehan hubungan tetapi juga dari segi tujuan dan akibat hukumnya. Jika kita menyadari hal itu pengertian pernikahan di atas harus diperluas sehingga mencakup pelaksanaan, tujuan dan akibat hukumnya. Pengertian seperti ini kita dapati para ahli hukum Islam Mutaakh khiriin[4].
Pernikahan suatu cara yang dipilih Allah sebagai jalan bagi manusia untuk meneruskan keturunan, berkembang biak dan kelestarian hidupnya, setelah masing-masing pasangan siap melakukan peranannya yang positip dalam mewujudkan tujuan perkawinan. Dalam Firman-Nya :
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oyÏnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`Í #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnöF{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3øn=tæ $Y6ŠÏ%u ÇÊÈ  
Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu[5]. (Q.S An-Nisaa: 1)
Dan Allah telah menciptakan lelaki dan perempuan sehingga mereka dapat berhubungan satu sama lain, sehingga mencintai, menghasilkan keturunan serta hidup dalam kedamaian sesuai dengan perintah Allah SWT dan petunjuk dan Rasul-Nya :
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ  
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan anakmu pasangan dari jenismu sendiri agar kalian dapat hidup damai bersamanya, dan telah dijadikan-nya rasa kasih sayang di antaramu. Sesungguhnya sedemikian terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir[6]. (QS  Ar Ruum: 21)
Selain dalam kitabullah, terdapat banyak hadis dan Rasulullah Muhammad SAW yang menjelaskan lebih lanjut tentang lembaga penkawinan dalam Islam.
Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
لا رهبا نية في الا سلام.
Tiada kerahiban dalam Islam
Membujang tidak dianggap perilaku yang baik dalam Islam atau merupakan cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah seperti yang dilakukan oleh agama lain: Kristen, Budha dan Jainisme, dan lain-lain.
Nabi SAW telah mengingatkan:
يامعشر الشاب من ستطاع ألباءة فلمقو وج فإنه أغضر للصر وأحصن للضرج.
Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu diantaramu untuk menikah maka hendaklah menikah karena akan menundukkan pandanganmu dan memelihara kehormatanmu.
Dan Nabi SAW telah menyebutkan bahwa kehormatan merupakan “sebagaian dan Imam”.
الحياء من الايمان
Kehormatan/malu itu sebagaian dari Iman.
Maka untuk memperoleh kehormatan dan mencapai kesempurnaan Iman seseorang, terkadang ada orang yang ragu-agu untuk nikah, karena sangat takut memikul beban berat dan menghindarkan diri dari kesulitan-kesulitan.
Tujuan pernikahan adalah untuk memenuhi kebutuhan biologis yang mendasar untuk berkembang biak. Anak-anak merupakan pernyataan dari rasa keibuan dan kebapakan. Islam  memperhatikan tersedianya lingkungan yang sehat dan nyaman untuk membesarkan anak keturunan.
Peranan utamanya adalah berusaha mencapai kesejahteran rumah tangganya serta menyelesaikan berbagai urusan di dalam keluarganya itu. Bila dia memiliki harta sendiri dan kalau dia memilih untuk mengtisahakan kekayaanya itu maka dia berhak melakukan yang sedemikian itu tanpa seijin suaminya, asalkan hal ini tidak melanggar kewajibannya dan tanggung jawabnya atas anak-anaknya[7].
Oleh karena itu, pernikahan dalam Islam, secara luas adalah :
1)      Merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan emosi dan seksual yang sah dan benar.
2)      Cara untuk memperoleh keturunan yang sah.
3)      Memduduki fungsi social.
4)      Mendekatkan hubungan antàr keluarga dan solidaritas kelompok merupakan perbuatan menuju ketaqwaan.
5)      Merupakan suatu bentuk ibadah, yaitu pengabdian kepada Allah mengikuti sunnah Rasulullah SAW[8].
C.       Hikmah Menikah
Hikmahnya ialah Supaya manusia itu hidup berpasang-pasang hidup dua sejoli, hidup laki-isteri, membangunkan rumah yang damai dan teratur. Untuk itu haruslah diadakan ikatan dan pertalian yang kokoh yang tak mudah putus dan diputuskan ialah aqad nikah atau ijab, kabul pernikahan. Bila aqad’ nikah dilangsungkan, maka mereka telah berjanji dan bersetia, akan membangunkan satu rumah tangga yang damai dan teratur, akan sehidup semati, sesakit dan sesenang, merunduk sama bungkuk melompat sama patah, sehingga mereka menjadi satu keluarga.
Inilah hikmah menikah dan itulah faedah mendirikan rumah tangga yang damai dan teratur. Selain itu faedah berkawin ialah memeliharakan diri seseorang, supaya jangan jatuh kelembah kejahatan (perzinaan). Karena bila ada isteri disampingnya tentu akan terhindarlah ia dari pada melakukan pekerjaan yang keji itu. Begitu juga wanita yang ada disampingnya suami, tentu akan terjauh dari maksiat tersebut[9].

D.       Tata Cara Pernikahan Dalam Islam
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara pernikahan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang Shahih, secara singkat penulis menyebutkan dan menjelaskan  :
1.      Khitbah (Peminangan)
Seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain, dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq ‘alaihi)[10].
2.      Aqad Nikah
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi:
a)   Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
b)   Adanya Ijab Qabul.
c)   Syarat ijab.
§  Perkataan/lafadz nikah hendaklah tepat.
§  Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran.
§  Diucapkan oleh wali atau wakilnya.
§  Tidak diikatkan dengan tempoh waktu.
§  Tidak secara taklik (tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafazkan)
Contoh bacaan Ijab: Wali berkata kepada calon suami: "Saya nikahkan engkau dengan anak saya, Zulaihah dengan mas kahwin Rp. 500.000 tunai"[11].
d)   Syarat qabul
·      Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab.
·      Tiada perkataan sindiran.
·      Dilafazkan oleh calon suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu).
·      Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak).
·      Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan).
·      Menyebut nama calon isteri.
·      Tidak diselangi dengan perkataan lain
Contoh sebuatan qabul : (akan dilafazkan oleh calon suami): "Saya terima nikahnya Zulaihah binti Munif untukku dengan mas kahwin tersebut tunai"[12].
e)    Adanya Mahar .
Mahar (atau diistilahkan dengan mas kawin) adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya, baik berupa uang ataupun berupa barang[13]. Mahar merupakan milik seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun yang lainnya, kecuali dengan keridhaannya. Allah Berfirman:
(#qè?#uäur uä!$|¡ÏiY9$# £`ÍkÉJ»s%ß|¹ \'s#øtÏU 4 ÇÍÈ  
“Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.”. (QS. An-Nisa’ : 4)
Adapun jenis-jenis mahar itu dibagi menjadi dua:
Ø Mahar misil : mahar yang dinilai berdasarkan mahar saudara perempuan yang telah berkahwin sebelumnya.
Ø Mahar muthamma : mahar yang dinilai berdasarkan keadaan, kedudukan, atau ditentukan oleh perempuan atau walinya.
3.      Adanya Wali.
Yang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita. Dan orang paling berhak untuk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya, dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan cucunya, kemudian saudara seayah seibu, kemudian saudara seayah, kemudian paman dan wali hakim[14].
a)      Syarat wali
· Islam, bukan kafir dan murtad.
· Lelaki dan bukannya perempuan.
· Baligh.
· Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan.
· Bukan dalam ihram haji atau umrah.
· Tidak fasik.
· Tidak cacat akal fikiran, terlalu tua dan sebagainya.
· Merdeka.
· Tidak ditahan kuasanya daripada membelanjakan hartanya[15].
4.      Adanya Saksi-saksi
Adapun Syarat-syarat saksi sebagai berikut:
a)    Sekurang-kurangya dua orang.
b)   Islam.
c)    Berakal.
d)   Baligh.
e)    Lelaki.
f)    Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul.
g)   Boleh mendengar, melihat dan bercakap.
h)   Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak berterusan melakukan dosa-dosa kecil).
i)     Merdeka[16].
5.      Adanya Walimah
E.       Orang-Orang yang haram dinikahi
1.    Perempuan yang diharamkan menikah dengan lelaki disebabkan keturunannya (haram selamanya) :
a)   Ibu
b)   Nenek sebelah ibu mahupun bapa
c)   Anak perempuan & keturunannya
d)  Adik-beradik perempuan seibu sebapa atau sebapa atau seibu
e)   Anak perempuan kepada adik-beradik lelaki mahupun perempuan, iaitu semua anak saudara perempuan
f)    Emak saudara sebelah bapa (adik-beradik bapa)
g)   Emak saudara sebelah ibu (adik-beradik ibu)[17].
2.    Perempuan yang diharamkan menikah dengan lelaki disebabkan oleh susuan ialah:
a)   Ibu susuan
b)   Nenek dari sebelah ibu susuan
c)   Adik-beradik perempuan susuan
d)  Anak perempuan kepada adik-beradik susuan lelaki atau perempuan
e)   Emak saudara sebelah ibu susuan atau bapa susuan
3.   Perempuan mahram bagi lelaki kerana persemendaan ialah:
a)   Ibu mertua dan ke atas
b)   Ibu tiri
c)   Nenek tiri
d)  Menantu perempuan
e)   Anak tiri perempuan dan keturunannya
f)    Adik ipar perempuan dan keturunannya
g)   Emak saudara kepada isteri
h)   Anak saudara perempuan kepada isteri dan keturunannya[18].

F.        Hukum-Hukum Nikah
1.    Sunnah : Jumhur Ulama’ sepakat bahwa hukum asal pernikahan adalah sunnah. Dasar pendapat ini terdapat dalam firman Allah SWT :
(#qßsÅ3Rr&ur 4yJ»tƒF{$# óOä3ZÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$#ur ô`ÏB ö/ä.ÏŠ$t6Ïã öNà6ͬ!$tBÎ)ur 4 bÎ) (#qçRqä3tƒ uä!#ts)èù ãNÎgÏYøóムª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ª!$#ur ììźur ÒOŠÎ=tæ ÇÌËÈ  
                        Artinya : “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan member kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas, maha mengetahui”. (QS. An-Nur : 32)[19].
Dan dalam sabda Nabi juga diterangkan :
النكحء من سنتى فمن رغب عن سنتى فليسى منى.
Menikah itu merupakan sunnahku, maka barangsiapa yang membenci sunnahku, bukanlah dari golonganku.
عن عبد الرحمن بن يزيد عن عند الله قال لنارسول الله صلى الله عليه وسلم يامعشر الصباب من استطاع منكم البأة فلينكح فانه أغض للبصر واحصن للضرج ومن لا فليصم فإن الصوم له وجاء.
“Dari Abdur Rahman ibnu Yazid dan Abdullah ra berkata: “Rasulullah saw. telah bersabda kepada kami: “Wahai para pemuda, siapa di antara kamu yang telah mampu memberi belanja nikah, maka segeralah Ia menikah, karena hal itu lebih dapat menundukkan pandangan mata, dan lebih menjaga kemaluan dan perbuatan keji; dan siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa dapat menekan hawa nafsunya”
(H. Shahih Al-Bukhori)[20].
2.    Jaiz/mubah (diperbolehkan).
3.    Wajib : bagi orang yang mampu member nafkah dan dia takut akan terjrumus pada kejahatan (perzinaan).
4.    Makruh : bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah.
5.    Haram : bagi orang yang berniat akan menyakiti perempuan yang dinikahinya[21].

 IV.            KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan secara garis besarnya bahwa hadis Nabi Muhammad SAW. Menikah itu merupakan sunah nabi SAW yang sangat dianjurkan kepada setiap pemuda dan pemudi yang telah siap secara lahiriah dan batiniah untuk segera melangsungkan pernikahan.sesungguhnya dengan pernikahan itu menjaga seorang muslim dapi perbuatan zina. Selain itu pula pernikahan bertujuan melanjutkan keturunan yang merupakan fitrah manusia.
Menikah merupakan suatu kewajiban yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, gunanya untuk menghindarkan kita kepada jalan kemaksiatan. Menikah juga merupakan sarana untuk memperoleh keturunan.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum nikah. Menurut para ulama mazhab Syafi’i, ia bukan ibadah. Oleh karena itu, jika seseorang menazdarkannya maka tidak bersifat mengikat. Namun ulama mazhab Hanafi menganggapnya sebagai ibadah.





DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Perkawinan Dalam Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 1992.
Departemen Agama, Ilmu Fiqih, IAIN, Jakarta, 1985.
Departemen Agama RI, Al Quran dan terjemahannya, Jakarta, PT Syamil  Cipta Media, 2005.
Husnul Qodim dkk,  Fiqh Ibadah, Jakarta, LeKdiS, 2007.
Imam An-Nasa’iy, Sunan An Nasa’iy, Asy-Syifa, Semarang, 1992.
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Al-Ma’arif, Bandung, 1993.
Shahih Al-Bukhori , Darul Fikr, Juz 3, hal. 251.
Sulaiman Rasjid, Hukum Fiqh Islam, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2011.
Tholhah Ma’ruf dkk, Fiqih Ibadah, PP. Al-Falah Ploso Mojo, Lembaga Ta’lif Wannasyr, 2008.
Yunus Mahmud,  Hukum Perkawinan dalam Islam, CV. Al-Hidayah, Jakarta, 1998.











[1] Abdurrahman, Perkawinan dalam Syari’at, Jakarta, Rineka Cipta, 1992,hal. 1-5.
[2] Shahih Al-Bukhori, Darul Fikr, Juz 3, hal. 251.
[3] Tholhah Ma’ruf dkk, Fiqih Ibadah, PP. Al-Falah Ploso Mojo, Lembaga Ta’lif Wannasyr, 2008, hal. 317.
[4] Departemen Agama, Ilmu Fikih, Jakarta,IAIN, 1985,hal. 48.
[5] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Bandung, Al-Ma’arif, 1993,hal. 9-15.
[6] Departemen Agama RI, Al Quran dan terjemahannya, Jakarta, PT Syamil  Cipta Media, 2005, [21] Surat Ar-Ruum, Ayat 21, hal. 406.
[7] Sulaiman Rasjid, Hukum Fiqh Islam, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2011, hal. 375.
[8] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah,op cit, hal. 4-6.
[9] Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam, op cit,.ha. 5-7.
[10] Sulaiman Rasjid, Hukum Fiqh Islam, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2011, hal. 380.
[11] Husnul Qodim dkk,  Fiqh Ibadah, Jakarta, LeKdiS, 2007, hal. 133.
[12] Ibit, Husnul Qodim dkk,  Fiqh Ibadah, hal. 133
[13] Sulaiman Rasjid, Hukum Fiqh Islam, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2011, hal. 393.
[14] Ibit, Hukum Fiqh Islam, hal. 393.
[15] Husnul Qodim dkk,  Fiqh Ibadah, Jakarta, LeKdiS, 2007, hal. 131.
[16] Ibit, Fiqh Ibadah,  hal. 131.
[17] Sulaiman Rasjid,  Hukum Fiqh Islam, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2011, hal. 389.
[18] Ibit, Sulaiman Rasjid, Hukum Fiqh Islam, hal. 389.
[19] Departemen Agama RI, Al Quran dan terjemahannya, Jakarta, PT Syamil  Cipta Media, 2005, [18] Surat An-Nur, Ayat 32, hal. 354.
[20] Shahih Al-Bukhori, Darul Fikr, Juz 3, hal. 251.
[21] Sulaiman Rasjid,  Hukum Fiqh Islam, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2011, hal. 381-382.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar