Minggu, 16 September 2012

SEJARAH KEBANGKITAN ISLAM DI JAZIRAH ARAB

 
Makalah
Di Susun Guna Memenuhi Tugas
              Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
 Dosen Pengampu : Efa Ida Amalia, MA


                                  Disusun Oleh :  
                             Akhmad Syaifuddin


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN USHULUDDIN/TH

SEJARAH KEBANGKITAN ISLAM DI JAZIRAH ARAB



I.      PENDAHULUAN
Islam yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal, dan diabaikan oleh bangsa-bangsa lain, menjadi Negara yang maju. Beliau dengan cepat bergerak mengembangkan dunia, membina satu kebudayaan, dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.[1] Pada saat itu pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam terjadi sebagai jawaban Islam terhadap tantangan yang dihadapi oleh Islam sehubung dengan berkembang dan meluasnya daerah/wilayah kekuasaan Islam di Jazirah Arab, yang pada umumnya telah tumbuh berbagai aspek peradaban yang lebih maju.
Dengan tumbuhnya dan perkembangnya dalam upaya menuju kebangkitan Islam di Jazira Arab, sehingga terbentuklah suatu lingkungan budaya yang luas dengan sistem lebih terbuka. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan peradaban dalam upaya menjadakan Negara Islam semakin berkembang, dan pada saat itu berlangsung upaya mengIslamisasi budaya dan peradaban bangsa-bangsa yang baru masuk Islam pada masa tersebut, ditandai dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai khalifah di Dunia.[2] Risalah penyebaran Islam dilanjudkan oleh Nabi Muhammad SAW, di jazirah Arab pada abad ke-7 ketika Nabi mendapat wahyu dari Allah SWT. Dan setelah Wafatnya Setelah Nabi Muhammad SAW, kerajaan berkembang hingga Samudra Atlantik di barat dan Asia Tengah di Timur. Hingga umat Islam terecah dan terdapat banyak kerajaan-kerajaan Islam yang muncul.

II.      RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana sejarah bangkitnya Islam di Jazirah Arab?
B.     Dengan cara bagaimana terwujudnya kebangkitan Islam di Jazirah Arab?

III.      PEMBAHASAN
A.    Bangkitnya Islam di Jazirah Arab.
Sebelum kebangkitan Islam di Jazirah Arab, mari kita ulas seklias tenteng sejarah sebelum dan sesudah Islam di Jazirah Arab dalam masa kebangkitan:
1.  Jazirah Arab sebelum Islam lahir.
Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang sangat mundur. Kebanyakan orang Arab  merupakan penyembah berhala dan yang lain merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Kristen Yahudi Makkah ketika itu merupakan tempat suci bagi bangsa Arab. Karena di tempat tersebut terdapat berhala-berhala agama mereka dan juga terdapat Sumur Zamzam dan yang sangat penting adalah Kakbah.[3]
Pada waktu itu Makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri arab. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota dan tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal. Makkah terlihat makmur dan kuat. Agama dan kesukuan masyarakat jazirah Arab begitu luas. Sedangkan Jazirah Arab sendiri terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Disana tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair di musim hujan. Sebagian besar daerah Jazirah adalah padang pasir Sahara yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sifat yang berbeda-beda.[4]
Bagian lain dari daerah Arab yang sama sekali tidak pernah dijajah oleh bangsa lain, baik karena sulit dijangkau maupun karna tandus dan miskin, adalah Hijaz. Kota terpenting didaerah ini adalah  Makkah, kota suci tempat ka’bah berdiri. Apabila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat di bagi menjdi dua golongan besar, yaitu Qahtaniyun (keturunan Qahthan) dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail abn Ibrahim), sebagai pemegang pemegang atas Ka’bah.[5] Akan tetapi semakin lama kedua golongan itu membaur dikarenakan perpidahan dari utara ke selatan dan juga sebaliknya. Dalam beberapa kelompok pada membentuk kabilah - kabilah, dan beberapa kelompok kabilah tersebut mebentuk suku dan di pimpin oleh syaikh. Mereka menekankan kesukuan, sehingga kesetiaan sangat kuat bagi suatu kabilah. Mereka suka berperang dan peperangan itu sering terjadi. Didalm masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi seperti itu terus berlangsung sampai agama Islam lahir.[6]
Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang. Karna itu, vahan-bahan sejarah Arab pra Islam sangat langka didapatkan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab. Ahmad Syalabi menyebutkan, sejarah mereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya Agamg Islam.[7]
2.Jazirah Arab setelah Islam lahir.
Dengan turunnya wahyu pertama kali, berarti Muhammad telah terpilih sebagai Nabi. Kemudian turunlah wahyu yang kedua kali Nabi baru diperintahkan untuk berdakwah. Beliau melakukan dakwah secara diam-diam dilingkungan sendiri dan teman-temannya. Setelah beberapa lama dakwah secara individu maka turunlah perintah untuk menjalankan dakwah secara terbuka.[8]
Setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha mengalanginya. Semakin bertambahnya pengikut Nabi, semakin keras tantangan yang dilancarkan kaum Quraisy, sampai muncullah pemboikotan terhapap Bani hasyim. Dan setelah pemboikotan itu berhenti, tidak lama kemudian Abu Tholib meninggal dunia. Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, maka Allah mengisra’ mikrajkan beliau pada tahun ke-10 kenabian. Berita tentang Isra’ dan Mikraj menggemparkan masyarakat Makkah. Setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk yatsrib yang berhaji ke Makkah. Mereka terdiri dari suku ‘Aus dan Khazraj.[9]
Babak baru sejarah islam pun. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di madinah. Pada waktu itu Nabi Muhammad selain menjadi kepala agama, tetapi juga kepala Negara. Kedudukannya sebagai rasul secara otomatis merupakan kepala agama.[10] Dengan terbentuknya Negara Madinah, Islam semakin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu menbuat orang-orang Makkah dan musuh-musuh Islam semakin risau. Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan dari usuh Nabi membentuk pasukan tentara dan umat islam diizinkan berperang dengan dua alasan: (1) untuk mempertahankan diri dan melindungi hak-hak miliknya dan (2) menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.[11]
B.     Dengan cara bagaimana terwujudnya kebangkitan Islam di Jazirah Arab
Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kaum muslimin agar mereka mengangkat seorang khalifah setelah beliau SAW wafat, yang dibai'at dengan bai'at syar'iy untuk memerintahkan kaum muslimin berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Menegakkan syari'at Allah, dan berjihad bersama kaum muslimin melawan musuh-musuh Allah.  Setelah Nabi Muhammad wafat, daerah kekuasaan telah meliputi seluruh Jazirah Arab. Bahkan semasa Nabi Muhammad pun Islam sudah mulai memasuki wilayah di luar lingkungan budaya dan peradaban bangsa Arab. Selanjutnya para khalifah (pengganti Rasulullah) sebagai pemegang kekuasaan dikalangan umat Islam, meneruskan usaha Nabi untuk memperluas penyebaran Islam.[12] Pengembangan wilayah Islam terdapat dua pola, yaitu: dengan dakwah dan perang. Pengembangan wilayah dengan jalan peperangan bukan merupakan prinsip dasar pengembangan Isalam, Rasulullah pernah memrintahkan tentara Islam untuk memerangi orang-orang Ghassan yang bersekutu dengan Romawi di perbatasan Syria, adalah karna sikap mereka berbahaya bagi Islam, mereka berusaha melenyapkan dan menghambat perkembangan Islam dengan cara membunuh para sahabat Nabi. Dengan demikian, cikal bakal perang yang dilakukan oleh umat Islam bertujuan mempertahankan diri dan untuk melindungi dakwah.[13]
Dengan dua pola Usaha pengembangan Islam di Jazirah Arab tersebut, maka perluasan wilayah kekuasaan Islam sejak zaman Nabi SAW sampai Khulafaur Rasyidin dapat digambarkan sebagai berikut:
1)      Pada zaman Nabi, Madinah berkembang keseluruh wilayah/Jazirah Arab, pada masa akhir hayatnya telah dirintis usaha ekspansi keluar Jazirah Arab dengan jalan mengirim surat/ajkan untuk masuk Islam kepada para raja dan para penguasa di sekitar Jazirah Arab.[14]
2)      Pada zaman Khalifah Abu Bakar, (tahun 11-13 H/632-634 M)
 penyebaran Islam melalui ekspansi dan dakwah, telah memasuki kota Hirah dan Anbar di Mesopotamia (Irak) dan sampai kesungai Yarmuk di Syiria.
3)      Pada zaman Khalifah Umar ibn Khattab, (tahun 13-23 H/634-644 M) penyebaran Islam sudah meluas sampai di sungai Amur Darya di sebelah Timur dan sampai ke Mesir di sebelah Barat.
4)      Pada masa pemerintahan Utsman ibn Affan, (tahun 23-35 H/644-656 M) penyebaran Islam dan perluasan wilayah kekuasaan telah mencapai khurasan, Armenia dan Aserbeijan di sebelah timur, dan mencapai Tunisia (Afrika Utara) dan Amuriah serta Cyprus (di Laut Tenngah) di sebelah Barat/Utara.[15]
5)      Sedangkan pada pemerintahan Khalifah Ali ibn Ali Tholib, (tahun 35-40 H/656-661 M) dipilih dan diangkat mayoritas para muslim, sedangkan minoritas (kelurga Umayyah) menentang atas pengangkatan tersebut.[16]
Pengangkatan khalifah keempat memperlihatkan variasi-variasi yang berbeda dan erat kaitannya dengan situasi dan kondisi masyarakat. (a. Ada yang dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum muslimin dengan musyawarah.(b. ada pula calon-calon yang dikemukakan oleh jamaah muslimin, yang jelas para khalifah tidak ada mencalonkan putranya sendiri, sehingga pada masa Khulafaur Rasyidin demokrasi Islam dapat terlaksana dalam pemilihan kepala Negara.[17]
IV.      KESIMPULAN
Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang sangat mundur. Kebanyakan orang Arab  merupakan penyembah berhala dan yang lain merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Kota terpenting didaerah ini adalah  Makkah, kota suci tempat ka’bah berdiri. Apabila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat di bagi menjdi dua golongan besar, yaitu Qahtaniyun (keturunan Qahthan) dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail abn Ibrahim), sebagai pemegang pemegang atas Ka’bah
Pengembangan wilayah Islam terdapat dua pola, yaitu: dengan dakwah dan perang.
Dengan dua pola Usaha pengembangan Islam di Jazirah Arab tersebut, maka perluasan wilayah kekuasaan Islam sejak zaman Nabi SAW sampai Khulafaur Rasyidin .



V.      PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat, tentunya masih banyak kesalahan dan kekurangannya. Untuk itu kritik dan saran yang dapat membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.


DAFTAR PUSTAKA
Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008.
Htt:// id.wikipedia.org/wiki/makkah, 21. 2. 2012, 21.00.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994.
Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan islam,1, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983.
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid 1, Jakarta, UI Press, 1995, cetakan ke lima.
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta, Penerbit kota kembang, 1989.
Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara, Jakarta, UI Press, 1990.



[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994, hlm. 2.
[2] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm.117.
[3] Htt:// id.wikipedia.org/wiki/makkah, 21. 2. 2012, 21.00.
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994, hlm. 9-10.
[5] Ibid., hlm. 13-14
[6] Ibid, hal 10.
[7] Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan islam,1, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983, hlm. 29.
[8] Badri Yatim, op. cit., hlm. 19-20.
[9] Ahmad Salabi, Sejarah Kebudayaan islam,1, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983, hlm. 104-5.
[10] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid 1, Jakarta, UI Press, 1995, cetakan ke lima, hlm. 101.
[11] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta, Penerbit kota kembang, 1989, hlm. 28-29.
[12] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm. 118.
[13] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994, hlm. 27.
[14] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm. 122.
[15] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm. 124.
[16] Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara, Jakarta, UI Press, 1990, hlm. 21-28.
[17] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm. 127-128.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar