Minggu, 16 September 2012

SEJARAH KEBANGKITAN ISLAM DI JAZIRAH ARAB

 
Makalah
Di Susun Guna Memenuhi Tugas
              Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
 Dosen Pengampu : Efa Ida Amalia, MA


                                  Disusun Oleh :  
                             Akhmad Syaifuddin


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN USHULUDDIN/TH

SEJARAH KEBANGKITAN ISLAM DI JAZIRAH ARAB



I.      PENDAHULUAN
Islam yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal, dan diabaikan oleh bangsa-bangsa lain, menjadi Negara yang maju. Beliau dengan cepat bergerak mengembangkan dunia, membina satu kebudayaan, dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.[1] Pada saat itu pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam terjadi sebagai jawaban Islam terhadap tantangan yang dihadapi oleh Islam sehubung dengan berkembang dan meluasnya daerah/wilayah kekuasaan Islam di Jazirah Arab, yang pada umumnya telah tumbuh berbagai aspek peradaban yang lebih maju.
Dengan tumbuhnya dan perkembangnya dalam upaya menuju kebangkitan Islam di Jazira Arab, sehingga terbentuklah suatu lingkungan budaya yang luas dengan sistem lebih terbuka. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan peradaban dalam upaya menjadakan Negara Islam semakin berkembang, dan pada saat itu berlangsung upaya mengIslamisasi budaya dan peradaban bangsa-bangsa yang baru masuk Islam pada masa tersebut, ditandai dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai khalifah di Dunia.[2] Risalah penyebaran Islam dilanjudkan oleh Nabi Muhammad SAW, di jazirah Arab pada abad ke-7 ketika Nabi mendapat wahyu dari Allah SWT. Dan setelah Wafatnya Setelah Nabi Muhammad SAW, kerajaan berkembang hingga Samudra Atlantik di barat dan Asia Tengah di Timur. Hingga umat Islam terecah dan terdapat banyak kerajaan-kerajaan Islam yang muncul.

II.      RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana sejarah bangkitnya Islam di Jazirah Arab?
B.     Dengan cara bagaimana terwujudnya kebangkitan Islam di Jazirah Arab?

III.      PEMBAHASAN
A.    Bangkitnya Islam di Jazirah Arab.
Sebelum kebangkitan Islam di Jazirah Arab, mari kita ulas seklias tenteng sejarah sebelum dan sesudah Islam di Jazirah Arab dalam masa kebangkitan:
1.  Jazirah Arab sebelum Islam lahir.
Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang sangat mundur. Kebanyakan orang Arab  merupakan penyembah berhala dan yang lain merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Kristen Yahudi Makkah ketika itu merupakan tempat suci bagi bangsa Arab. Karena di tempat tersebut terdapat berhala-berhala agama mereka dan juga terdapat Sumur Zamzam dan yang sangat penting adalah Kakbah.[3]
Pada waktu itu Makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri arab. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota dan tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal. Makkah terlihat makmur dan kuat. Agama dan kesukuan masyarakat jazirah Arab begitu luas. Sedangkan Jazirah Arab sendiri terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Disana tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair di musim hujan. Sebagian besar daerah Jazirah adalah padang pasir Sahara yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sifat yang berbeda-beda.[4]
Bagian lain dari daerah Arab yang sama sekali tidak pernah dijajah oleh bangsa lain, baik karena sulit dijangkau maupun karna tandus dan miskin, adalah Hijaz. Kota terpenting didaerah ini adalah  Makkah, kota suci tempat ka’bah berdiri. Apabila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat di bagi menjdi dua golongan besar, yaitu Qahtaniyun (keturunan Qahthan) dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail abn Ibrahim), sebagai pemegang pemegang atas Ka’bah.[5] Akan tetapi semakin lama kedua golongan itu membaur dikarenakan perpidahan dari utara ke selatan dan juga sebaliknya. Dalam beberapa kelompok pada membentuk kabilah - kabilah, dan beberapa kelompok kabilah tersebut mebentuk suku dan di pimpin oleh syaikh. Mereka menekankan kesukuan, sehingga kesetiaan sangat kuat bagi suatu kabilah. Mereka suka berperang dan peperangan itu sering terjadi. Didalm masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi seperti itu terus berlangsung sampai agama Islam lahir.[6]
Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang. Karna itu, vahan-bahan sejarah Arab pra Islam sangat langka didapatkan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab. Ahmad Syalabi menyebutkan, sejarah mereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya Agamg Islam.[7]
2.Jazirah Arab setelah Islam lahir.
Dengan turunnya wahyu pertama kali, berarti Muhammad telah terpilih sebagai Nabi. Kemudian turunlah wahyu yang kedua kali Nabi baru diperintahkan untuk berdakwah. Beliau melakukan dakwah secara diam-diam dilingkungan sendiri dan teman-temannya. Setelah beberapa lama dakwah secara individu maka turunlah perintah untuk menjalankan dakwah secara terbuka.[8]
Setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha mengalanginya. Semakin bertambahnya pengikut Nabi, semakin keras tantangan yang dilancarkan kaum Quraisy, sampai muncullah pemboikotan terhapap Bani hasyim. Dan setelah pemboikotan itu berhenti, tidak lama kemudian Abu Tholib meninggal dunia. Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, maka Allah mengisra’ mikrajkan beliau pada tahun ke-10 kenabian. Berita tentang Isra’ dan Mikraj menggemparkan masyarakat Makkah. Setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk yatsrib yang berhaji ke Makkah. Mereka terdiri dari suku ‘Aus dan Khazraj.[9]
Babak baru sejarah islam pun. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di madinah. Pada waktu itu Nabi Muhammad selain menjadi kepala agama, tetapi juga kepala Negara. Kedudukannya sebagai rasul secara otomatis merupakan kepala agama.[10] Dengan terbentuknya Negara Madinah, Islam semakin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu menbuat orang-orang Makkah dan musuh-musuh Islam semakin risau. Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan dari usuh Nabi membentuk pasukan tentara dan umat islam diizinkan berperang dengan dua alasan: (1) untuk mempertahankan diri dan melindungi hak-hak miliknya dan (2) menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.[11]
B.     Dengan cara bagaimana terwujudnya kebangkitan Islam di Jazirah Arab
Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kaum muslimin agar mereka mengangkat seorang khalifah setelah beliau SAW wafat, yang dibai'at dengan bai'at syar'iy untuk memerintahkan kaum muslimin berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Menegakkan syari'at Allah, dan berjihad bersama kaum muslimin melawan musuh-musuh Allah.  Setelah Nabi Muhammad wafat, daerah kekuasaan telah meliputi seluruh Jazirah Arab. Bahkan semasa Nabi Muhammad pun Islam sudah mulai memasuki wilayah di luar lingkungan budaya dan peradaban bangsa Arab. Selanjutnya para khalifah (pengganti Rasulullah) sebagai pemegang kekuasaan dikalangan umat Islam, meneruskan usaha Nabi untuk memperluas penyebaran Islam.[12] Pengembangan wilayah Islam terdapat dua pola, yaitu: dengan dakwah dan perang. Pengembangan wilayah dengan jalan peperangan bukan merupakan prinsip dasar pengembangan Isalam, Rasulullah pernah memrintahkan tentara Islam untuk memerangi orang-orang Ghassan yang bersekutu dengan Romawi di perbatasan Syria, adalah karna sikap mereka berbahaya bagi Islam, mereka berusaha melenyapkan dan menghambat perkembangan Islam dengan cara membunuh para sahabat Nabi. Dengan demikian, cikal bakal perang yang dilakukan oleh umat Islam bertujuan mempertahankan diri dan untuk melindungi dakwah.[13]
Dengan dua pola Usaha pengembangan Islam di Jazirah Arab tersebut, maka perluasan wilayah kekuasaan Islam sejak zaman Nabi SAW sampai Khulafaur Rasyidin dapat digambarkan sebagai berikut:
1)      Pada zaman Nabi, Madinah berkembang keseluruh wilayah/Jazirah Arab, pada masa akhir hayatnya telah dirintis usaha ekspansi keluar Jazirah Arab dengan jalan mengirim surat/ajkan untuk masuk Islam kepada para raja dan para penguasa di sekitar Jazirah Arab.[14]
2)      Pada zaman Khalifah Abu Bakar, (tahun 11-13 H/632-634 M)
 penyebaran Islam melalui ekspansi dan dakwah, telah memasuki kota Hirah dan Anbar di Mesopotamia (Irak) dan sampai kesungai Yarmuk di Syiria.
3)      Pada zaman Khalifah Umar ibn Khattab, (tahun 13-23 H/634-644 M) penyebaran Islam sudah meluas sampai di sungai Amur Darya di sebelah Timur dan sampai ke Mesir di sebelah Barat.
4)      Pada masa pemerintahan Utsman ibn Affan, (tahun 23-35 H/644-656 M) penyebaran Islam dan perluasan wilayah kekuasaan telah mencapai khurasan, Armenia dan Aserbeijan di sebelah timur, dan mencapai Tunisia (Afrika Utara) dan Amuriah serta Cyprus (di Laut Tenngah) di sebelah Barat/Utara.[15]
5)      Sedangkan pada pemerintahan Khalifah Ali ibn Ali Tholib, (tahun 35-40 H/656-661 M) dipilih dan diangkat mayoritas para muslim, sedangkan minoritas (kelurga Umayyah) menentang atas pengangkatan tersebut.[16]
Pengangkatan khalifah keempat memperlihatkan variasi-variasi yang berbeda dan erat kaitannya dengan situasi dan kondisi masyarakat. (a. Ada yang dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum muslimin dengan musyawarah.(b. ada pula calon-calon yang dikemukakan oleh jamaah muslimin, yang jelas para khalifah tidak ada mencalonkan putranya sendiri, sehingga pada masa Khulafaur Rasyidin demokrasi Islam dapat terlaksana dalam pemilihan kepala Negara.[17]
IV.      KESIMPULAN
Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang sangat mundur. Kebanyakan orang Arab  merupakan penyembah berhala dan yang lain merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Kota terpenting didaerah ini adalah  Makkah, kota suci tempat ka’bah berdiri. Apabila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat di bagi menjdi dua golongan besar, yaitu Qahtaniyun (keturunan Qahthan) dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail abn Ibrahim), sebagai pemegang pemegang atas Ka’bah
Pengembangan wilayah Islam terdapat dua pola, yaitu: dengan dakwah dan perang.
Dengan dua pola Usaha pengembangan Islam di Jazirah Arab tersebut, maka perluasan wilayah kekuasaan Islam sejak zaman Nabi SAW sampai Khulafaur Rasyidin .



V.      PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat, tentunya masih banyak kesalahan dan kekurangannya. Untuk itu kritik dan saran yang dapat membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.


DAFTAR PUSTAKA
Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008.
Htt:// id.wikipedia.org/wiki/makkah, 21. 2. 2012, 21.00.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994.
Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan islam,1, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983.
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid 1, Jakarta, UI Press, 1995, cetakan ke lima.
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta, Penerbit kota kembang, 1989.
Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara, Jakarta, UI Press, 1990.



[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994, hlm. 2.
[2] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm.117.
[3] Htt:// id.wikipedia.org/wiki/makkah, 21. 2. 2012, 21.00.
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994, hlm. 9-10.
[5] Ibid., hlm. 13-14
[6] Ibid, hal 10.
[7] Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan islam,1, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983, hlm. 29.
[8] Badri Yatim, op. cit., hlm. 19-20.
[9] Ahmad Salabi, Sejarah Kebudayaan islam,1, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983, hlm. 104-5.
[10] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid 1, Jakarta, UI Press, 1995, cetakan ke lima, hlm. 101.
[11] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta, Penerbit kota kembang, 1989, hlm. 28-29.
[12] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm. 118.
[13] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994, hlm. 27.
[14] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm. 122.
[15] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm. 124.
[16] Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara, Jakarta, UI Press, 1990, hlm. 21-28.
[17] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam, UIN-Malang Press, 2008, hlm. 127-128.

MAKKIYAH DAN MADANIYAH

Makalah
Di Susun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu : Drs. Zumrodi, M. Ag
  
Disusun Oleh : 
Akhmad Syaifuddin
 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN USHULUDDIN/TH



MAKKIYAH DAN MADANIYAH

I. PENDAHULUAN
Para ulama dan ahli tafsir terdahulu memberikan perhatian yang besar terhadap penyelidikan surat-surat Al-Qur’an. Mereka meneliti al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat untuk disusun sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Dengan cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti obyektif, gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makkiyah dan Madaniyah. Perhatian terhadap ilmu Al-Qur’an menjadi bagian terpenting para sahabat dibanding berbagai ilmu yang lain. Termasuk di dalamnya membahas tentang nuzulnya suatu ayat, tempat nuzulnya, urutan turunnya di Mekkah atau di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi termasuk kelompok Madaniyah atau ayat yang diturunkan di Madinah tetapi masuk dalam kategori Makkiyah.[1]
Abu al-Qasim al Hasan al Muhammad bin Habib al-Nasyaburi menyebutkan dalam kitabnya al-Tanbib ‘ala fadll ‘Ulum al-Qur’an, bahwa di antara ilmu-ilmu al-Qur’an yang paling mulia adalah ilmu tentang nuzul al-Qur’an dan tempat turunnya, urutan turunnya di Mekkah dan di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi masuk dalam kategori Madaniyahyah dan sebaliknya,  tentang yang diturunkan di Mekkah mengenai penduduk Madinah dan sebaliknya, dan tentang yang diturunkan di Juhfah, di Baitul Makdis, di Ta’rif atau di Hudaibiyah. Demikian juga tentang yang diturunkan di waktu malam, siang, dan secara bersama-sama (surat al-An’am[6], al-Fatihah[1], dan ayat Kursi), ataupun yang diturunkansecara tersendiri. Ayat-ayat Makkiyah dan surat-surat Madaniyah atau sebaliknya. Kesemuanya itu terkumpul dalam satu ilmu yaitu Ilmu Makkiyah dan Madaniyah[2]
II. RUMUSAN MASALAH
A.   Apa Definisi atau pengertian surat Makkiyah dan Madaniyah?
B.   Apa ciri – ciri dan karakteristik surat Makkiyah dan Madaniyah?
III. PEMBAHASAN
A.  Definisi atau pengertian surat Makkiyah dan Madaniyah
Ada beberapa definisi tentang al-Makkiyah dan Madaniyah yang diberikan oleh para ulama yang masing-masing berbeda satu sama lain. Perbedaan ini disebabkan kriteria yang disebabkan oleh perbedaan kriteria yang ditetapkan untuk menetapkan Makiyah atau Madaniyah sebuah surat atau ayat.[3]
Ada tiga pendapat yang dikemukakan ulama tafsir dalam hal ini :
1.    Berdasarkan tempat turunnya suatu ayat.
Makkiyah ialah suatu ayat yang diturunkan di Mekkah, sekalipun sesudah hijrah, sedang Madaniyahyah ialah yang diturunkan di Madinah”. Berdasarkan rumusan di atas,Makkiyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di wilayah Mekkah (meliputi Mina, Arafat, Hubaidiyah) dan sekitarnya. Sedangkan Madaniyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di Madinah (meliputi Badar, Quba, Sil’ dan Uhud).[4]
2.    Berdasarkan khittab/ seruan/ panggilan dalam ayat tersebut.      
Makkiyah ialah ayat yang khittabnya/panggilannya ditujukan kepada penduduk Mekkah, sedang Madaniyahyah ialah yang khittabnya ditujukan kepada penduduk Madaniyahyah”. Berdasarkan rumusan di atas, para ulama menyatakan bahwa setiap ayat atau surat yang dimulai dengan
$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Z9$#                             (wahai sekalian manusia)              
Dikategorikan Makkiyah, karena pada masa itu penduduk Mekkah pada umumnya masih kufur. Sedangkan ayat atau surat yang dimulai dengan
$yg•ƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä    (wahai orang-orang yang beriman)
Dikategorikan Madaniyah, karena penduduk Madinah pada waktu itu telah tumbuh benih-benih iman di dada mereka.[5]
3.    Berdasarkan masa turunnya ayat tersebut
Makkiyah ialah ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunnya di luar Mekkah, sedang Madaniyahyah ialah yang diturunkan sesudah Nabi hijrah, sekalipun turunnya di Mekkah. Dibanding dua rumusan sebelumnya , tampaknya rumusan Makkiyah dan Madaniyah ini lebih populer karena di anggap tuntas dan memenuhi unsur penyusunan ta’rif (definisi). Dalam hal ini tempat bukan menjadi ukuran. Meskipun diturunkan di Arafah-Makkah, Misalnya QS Al-Ma’idah(5):3.[6]
4 tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ 4 
  
B.  Ciri dan Karakteristik Makiyyah dan Madaniyah
Para ulama telah meneliti dan menetapkan karakteristik Makiyyah dan Madaniyah sebagai berikut :
a.    Ciri dan Karakteristik Surat Makiyyah          
Ada beberapa ciri dan karakteristik yang dimiliki Makiyyah di antaranya.
1.    Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata ya ayyuhan nas. Kata ini dipergunakan untuk memberi peringatan yang tegas dan keras kepada orang-orang Mekkah yang keras kepala.
2.    Setiap surat yang di dalamnya terdapat ayat sajdah termasuk Makiyyah.
3.    Setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu termasuk Makiyyah, kecuali surat al-Baqarah dan Ali ‘Imran yang keduanya termasuk Madaniyah. Adapun surat al-Ra’d yang masih diperselisihkan.
4.    Setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah Nabi Adam dan Iblis termasuk Makiyyah, kecuali surat Al-Baqarah yang tergolong Madaniyah.
5.    Setiap surat yang dimulai dengan huruf abjad, alphabet (tahjjiy) ditetapkan sebagai Makiyyah, kecuali Al-Baqarah dan Ali ‘Imran. Huruf tahjjiy.
6.    Mengandung seruan (nida’) untuk beriman kepada Allah dan hari kiamat dan apa-apa yang terjadi di akhirat. Di samping itu, ayat-ayat Makiyyah ini menyeru untuk beriman kepada para rasul dan para malaikat serta menggunakan argumen-argumen akal, kealaman dan jiwa.
7.     Membantah argumen-argumen kaum Musyrikin dan menjelaskan kekeliruan mereka terhadap berhala-berhala mereka.
8.    Mengandung seruan untuk berakhlak mulia dan berjalan di atas syariat yang hak tanpa terbius oleh perubahan situasi dan kondisi, terutama hal-hal yang berhubungan dengan memelihara agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan.
9.    Ayatnya pendek-pendek disertai kata-kata mengesankan sekali, pernyataan singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan dierkuat lafal-lafal sumpah, seerti surah-surah pendek-pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.[7]
b.    Ciri dan Karakteristik Surat Madaniyah
Seperti halnya dalam Makiyyah, Madaniyah pun mempunyai ciri-ciri karakteristik :
1.         Setiap surat yang berisi hukum pidana, hukum warisan, hak-hak perdata dan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perdata serta kemasyarakatan dan kenegaraan, termasuk Madaniyah.
2.         Setiap surat yang mengandung izin untuk berjihad, urusan-urusan perang, hukum-hukumnya, perdamaian dan perjanjian, termasuk Madaniyah.
3.         Setiap surat yang menjelaskan hal ihwal orang-orang munafik termasuk Madaniyah, kecual surat Al-Ankabut yang di nuzulkan di Makkah. Hanya sebelas ayat pertama dari surat tersebut yang termasuk Madaniyah dan ayat-ayat tersebut menjelaskan perihal orang-orang munafik.
4.         Menjelaskan hukum-hukum amaliyyah dalam masalah ibadah dan muamalah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, qisas, talak, jual beli, riba, dan lain-lain.
5.         Sebagian surat-suratnya panjang-panjang, sebagian ayat-ayatnya panjang-panjang dan gaya bahasanya cukup jelas dalam menerangkan hukum-hukum agama.[8]

Menurut Imam Abul Qasim al-Naisaburi dalam Kitab al-Ttanbih ‘ala Fadhli ‘Ulumil Qur’an menerangkan/menbahas ayat-ayat al-qur’an terkait kapan, bagaimana, dan dimana turunnya sebagai berikut : “Di antara ilmu-ilmu al-Qur’an yang paling utama adalah ilmu tentang:[9]
1.         Turunnya al-Qur’an dan tempat-tempat turunnya.
2.         Urut-urutan ayat-ayat yang turun di Mekkah pada masa permulaan, pertengahan, dan penghabisannya. Demikian pula ayat-ayat yang turun di Madinah pada masa permulaan, pertengahan, penghabisannya.
3.         Ayat-ayat yang turun di Mekkah sedang hukumnya termasuk Madaniyahyah.
4.         Ayat-ayat yang turun di Madinah sedang hukumnya Makiyyah.
5.         Ayat-ayat yang turun di Mekkah mengenai penduduk Madinah.
6.         Ayat-ayat yang turun di Madinah mengenai penduduk Mekkah.
7.         Ayat-ayat yang menyerupai Makkiyah yang terdapat dalam surat Madaniyah.
8.         Ayat-ayat yang menyerupai Madaniyahyah yang terdapat dalam surat Makkiyah.
9.         Ayat-ayat yang turun di Juhfah – sebuah desa tidak jauh dari Mekkah, dalam perjalanan menuju ke Madinah.
10.     Ayat-ayat yang turun di Baitul Maqdis.
11.     Ayat-ayat yang turun d Thaif.
12.     Ayat-ayat yang turun di Hudaibiyah.
13.     Ayat-ayat yang turun pada malam hari.
14.     Ayat-ayat yang turun pada siang hari.
15.     Ayat-ayat yang turun secara kelompok.
16.     Ayat-ayat yang turun sendirian.
17.     Ayat-ayat Madaniyahyah yang terdapat pada surat-surat Makkiyah.
18.     Ayat-ayat Makkiyah yang terdapat pada surat-surat Madaniyahyah.
19.     Ayat-ayat yang dibawa dari Mekkah ke Madinah.
20.     Ayat-ayat yang dibawa dari Madinah ke Mekkah.
21.      Ayat-ayat yang dibawa dari Madinah ke Abbessynia (Habasyah).
22.     Ayat-ayat yang turun secara mujmal (global).
23.     Ayat-ayat yang turun secara mufassar (disertai keterangan).
24.     Ayat-ayat yang turun secara rumuz (dengan isyarat).
25.     Ayat-ayat yang dipersoalkan oleh ulama. Sebagian ulama menganggap Makkiyah, sedang sebagian lagi menganggap Madaniyah.

Inilah macam-macam Ilmu Qur’an yang pokok, berkisar di sekitar makki dan madani ; oleh karenanya di namakan “ilmu Makki dan Madani”. Dari pendapat 1, 2, 3, yang palinh mendekati kebenaran tentang bilangan surah-surah Makki dan Madani ialah bahwa Madani ada dua puluh surah:  1) al-Baqarah;  2) Ali ‘Imran;  3) an-Nisa’;  4) al-Ma’idah;  5) al-Anfal;  6) at-Taubah;  7) an-Nur;  8) al-Ahzab;  9) Muhammad;  10) al-Anfal;  11) al-Hujurat;  12) al-Hadid;  13) al-Mujadalah;  14) al-Hasyr;  15) al-Mumtahanah;  16) al-Jumu’ah;  17) al-Munafiqun;  18) al-Talaq;  19) at-Tahrim;  dan 20) an-Nasr.[10]
Sedangkan yang diperselisihkan ada dua belas surah: 1) al-Fatihah;  2) ar-Ra’ad;  3) ar-Rahman;  4) as-Saff;  5) at-Tagabun;  6)at-Tatfif;  7) al-Qadar;  8) al-Bayyinah;  9) az-Zalzalah;  10) al-Ikhlas;  11) al-Falaq;  12) an-Nas. Dan selain yang disebutkan di atas adalah Makki, yaitu delapan puluh dua surah. Maka jumlah surah-surah Qur’an itu semuanya seratus empat belas surah.[11]

IV. KESIMPULAN
Pengetahuan tentang ayat-ayat Mekkah dan Madinah merupakan bagian yang terpenting dalam ‘Ulum Qur’an. Hal ini bukan saja merupakan kepentingan kesejarahan melainkan juga untuk memahami dan menafsirkan ayat-ayat yang bersangkutan. Sebagaian surat di dalam al-Qur’an berisi ayat-ayat dari kedua periode tersebut dan dalam beberapa hal muncul perbedaan pendapat dari kalangan para ulama tentang klasifikasi ayat-ayat tertentu. Bagaimanapun juga secara keseluruhan memang sudah berhasil disusun suatu pola pemisahan (pembagian) yang sudah mapan, dan telah digunakan secara meluas secara ilmu tafsir, dan dijabarkan dari bukti-bukti internal yang ada dalam teks al-Quran itu sendiri.
Definisi Al-Makiyyah dan Madaniyah oleh para ahli tafsir meliputi berdasarkan tempat turunnya suatu ayat, berdasarkan khittab/ seruan/ panggilan dalam ayat tersebut, berdasarkan masa turunnya ayat tersebut. Surat-surat al-Qur’an itu terbagi menjadi empat macam antara lain : Surat-surat Makiyyah murni, Surat-surat Madaniyah murni, Surat-surat Makiyyah yang berisi ayat Madaniyah, Surat-surat Madaniyah yang berisi ayat Makiyyah.
Karakteristik surat dan ayat-ayat Al-Qur’an ini terbagi menjadi dua yaitu karakteristik Makkiyahdan karakteristik Madaniyah. Adapun kegunaan mempelajari Ilmu ini antara lain agar dapat membedakan ayat-ayat nasikh dan mansukh, agar dapat mengetahui sejarah hukum Islam dan tahapan-tahapannya secara umum, mendorong keyakinan yang kuat, agar mengetahui fase-fase dakwah Islamiyah yang telah ditempuh oleh Al-Qur’an secaa bertahap, agar dapat mengetahui keadaan lingkungan, situasi, dan kondisi masyarakat pada waktu turun ayat-ayat Al-Qur’an, agar mengetahui gaya bahasanya yang berbeda-beda.

DAFTAR PUSTAKA

v  As-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an, cetakan ke 3, al-Halabi.
v  Manna’ Khalil al-Qattan, Maba’ist fi ‘Ulumil Qur’an, perj, Mudzakir, 1994,
v  Jakarta, Pustaka Litera Antar Nusa.
v  Suhadi, 2011, ‘Ulumul Qur’an, Kudus, Nora Media Enterprise.
v  Syaifullah. 2004. ‘Ulumul Qur’an. Ponorogo. Prodial Pratama Sejati Press.
v  Zuhdi, Masjufuk. 1982. ‘Pengantar ulumul Quran’. Surabaya. Bina Ilmu


[1] Manna’ Khalil al-Qattan, Maba’ist fi ‘Ulumil Qur’an, perj, Mudzakir, Pustaka Litera AntarNusa, Jakarta, 1994, hlm 72.
[2] As-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an, cetakan ke 3, al-Halabi, jilid 1, hlm 8.
[3] Zuhdi, Masjufuk. 1982. ‘Pengantar ulumul Quran’. Surabaya. Bina Ilmu, hlm. 23.
[4] Manna’ Khalil al-Qattan, Maba’ist fi ‘Ulumil Qur’an, perj, Mudzakir, Pustaka Litera AntarNusa, Jakarta, 1994, hlm 84-85.
[5] Syaifullah, ‘Ulumul Qur’an, Ponorogo, Prodial Pratama Sejati Pres, 2004, hlm.34-35.
[6] Suhadi, ‘Ulumul Qur’an, Kudus, Nora Media Enterprise, 2011, hlm. 54.
[7] Manna’ Khalil al-Qattan, Maba’ist fi ‘Ulumil Qur’an, perj, Mudzakir, Pustaka Litera AntarNusa, Jakarta, 1994, hlm 87.
[8] Suhadi, ‘Ulumul Qur’an, Kudus, Nora Media Enterprise, 2011, hlm. 56.
[9] Ibid, hlm. 52.
[10]Manna’ Khalil al-Qattan, Maba’ist fi ‘Ulumil Qur’an, perj, Mudzakir, P.T. Pustaka Litera Antar Nusa, Jakarta, 1994, hlm. 74.
[11] Suhadi, ‘Ulumul Qur’an, Kudus, Nora Media Enterprise, 2011, hlm.58.